Fakultas Teknologi Pertanian (FTP) Universitas Gadjah Mada (UGM) terus berkomitmen dalam mendukung kolaborasi antar lembaga untuk memperkuat transformasi ekonomi di berbagai wilayah Indonesia. Pada 11 September 2024, FTP UGM menerima kunjungan dari Badan Perencanaan Pembangunan Daerah, Penelitian, dan Pengembangan (Bappedalitbang) Kabupaten Paser guna membahas potensi kerja sama dalam transformasi ekonomi bersama Fakultas Ekonomika dan Bisnis (FEB) UGM serta Fakultas Teknik (FT) UGM.
Prof. Dr. Ir. Eni Harmayani, M.Sc., Dekan FTP UGM, dalam sambutannya, menyampaikan harapannya agar kolaborasi ini berjalan dengan baik dan memberikan dampak positif terhadap perkembangan ekonomi lokal. “Kami berharap kerja sama ini dapat berjalan sesuai dengan prinsip Tridharma Perguruan Tinggi, dan tentunya berdampak nyata bagi masyarakat Kabupaten Paser,” ungkapnya. Sementara itu, Kasubdit Kerja Sama Dalam Negeri, Direktorat Kemitraan dan Relasi Global UGM, JJohan Syafri Mahathir Ahmad, S.T., M.Eng., Ph.D., menekankan pentingnya sinergi antara akademisi dan pemerintah daerah untuk memastikan keberhasilan program transformasi ekonomi ini.
Rusdian Nor, S.E., M.Si., Kepala Bappeda Kabupaten Paser juga menambahkan bahwa transformasi ekonomi di wilayahnya harus segera dilakukan, dengan fokus pada percepatan digitalisasi di sektor-sektor usaha yang ada di Kabupaten Paser. Pertemuan ini menghasilkan kesepakatan untuk menyusun roadmap transformasi ekonomi, dengan perhatian khusus pada sektor-sektor usaha potensial di Kabupaten Paser.
Pembangunan ekonomi yang berkelanjutan juga menjadi perhatian dalam kolaborasi ini, sejalan dengan tujuan Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs). Khususnya, poin SDG 8: Pekerjaan Layak dan Pertumbuhan Ekonomi dan SDG 9: Industri Inovasi dan Infrastruktur.
Penandatanganan MoU ini memperkuat kemitraan antara FTP UGM dan YESSA, dengan tujuan utama menciptakan agrotourism berbasis zero waste di Desa Sambak. Tim dari FTP UGM yang dipimpin oleh Prof. Lilik Soetiarso memaparkan capaian program selama dua tahun terakhir, menunjukkan kemajuan yang signifikan berkat sinergi antar-pemangku kepentingan. Hiroyasu Yukino, Senior Officer dari YESSA, menyampaikan kebanggaannya atas perkembangan Desa Sambak yang telah menjadi salah satu desa Proklim (Program Kampung Iklim) di Indonesia.
Pada sesi diskusi dan tanya jawab, Wahyu, calon wisudawan dari Departemen Teknologi Pangan dan Hasil Pertanian (TPHP), menanyakan kesalahan yang sering dirasakan bawahan terhadap seorang pemimpin. Aditya menjawab bahwa salah satu kesulitan dalam organisasi adalah menghadapi kenyataan bahwa tidak semua kondisi ideal, seperti kesenjangan kemampuan bahasa Inggris di kalangan bawahan. Namun, ia menekankan pentingnya bagi seorang pemimpin untuk tetap mendengarkan aspirasi bawahan dan berusaha menjadi pemimpin yang lebih baik.