Bagi sebagian orang, kopi bukan sekadar minuman, tapi juga rasa penasaran tentang bagaimana ia dibuat, bahkan peluang untuk memulai usaha. Rasa ingin tahu itu mengantar 5 peserta dari luar UGM ke Laboratorium Inkubator Fakultas Teknologi Pertanian UGM pada Kamis (24/9), untuk mengikuti pelatihan kopi yang diselenggarakan Unit Inkubator FTP UGM. Pelatihan ini dipandu Denny Neilment praktisi di bidang perkopian yang telah lama berkarir di bidangnya, memiliki usaha sendiri, dan bermitra dengan berbagai merek nasional.
Peserta datang dengan latar belakang yang berbeda. Ada yang sudah lama menyukai kopi dan ingin tahu proses di balik secangkir kopi, ada pula yang berencana memulai bisnis kopi. Di laboratorium, mereka diajak mengenali cara memilih biji kopi berkualitas serta mengamati perbedaan antara kopi arabica dan robusta. Dari sana, peserta melanjutkan ke praktik roasting dan brewing sendiri hingga kopi siap dinikmati.
Pelatihan ini menjadi bagian dari upaya Unit Inkubator FTP UGM membagikan ilmu dan pengalaman kepada masyarakat di luar kampus, sehingga pengetahuan tentang kopi tidak berhenti di ruang akademik. Selain praktik, sesi berbagi pengalaman dari sang praktisi memberi peserta gambaran nyata tentang seluk-beluk bisnis kopi. Suasana pelatihan terlihat hangat, peserta antusias mengikuti setiap sesi, dan sebagian bahkan menantikan pelatihan lanjutan.
Kegiatan ini turut mendukung pencapaian Sustainable Development Goals (SDGs), yaitu SDG 4 Pendidikan Berkualitas melalui pelatihan keterampilan bagi masyarakat umum, serta SDG 8 Pekerjaan Layak dan Pertumbuhan Ekonomi melalui pembekalan bagi peserta yang ingin memulai usaha kopi.
Penulis : Shella Herdanti
Antusiasme peserta terlihat sepanjang pelatihan berlangsung, dengan sebagian di antaranya bahkan beberapa diantaranya menantikan pelatihan roti berikutnya untuk terus mengasah keterampilan mereka.
Dalam satu dekade kepemimpinannya di FTP UGM yang sekaligus menjadi tahun terakhir masa jabatannya, Dekan FTP UGM, Prof. Dr. Ir. Eni Harmayani, M.Sc., menegaskan pentingnya menjaga semangat untuk terus bertumbuh dan memberikan kontribusi nyata. Perjalanan FTP UGM selama 63 tahun, menurutnya, bukan sekadar catatan capaian, melainkan pijakan untuk terus memperkuat peran fakultas dalam menjawab tantangan pangan dan agroindustri Indonesia, semangat yang diwujudkan melalui penguatan pendidikan, penelitian, inovasi, dan kolaborasi agar FTP UGM mampu terus menghadirkan solusi yang relevan bagi masyarakat dan masa depan.
Sebagai penutup, Harfest 2026 menghadirkan penampilan spesial dari Olski, band lokal ternama asal Yogyakarta, yang turut membuka pintu acara bagi masyarakat umum, tidak hanya bagi mahasiswa FTP UGM. Antusiasme peserta terlihat jelas sepanjang malam, menjadikan Harfest 2026 sebagai penutup yang meriah bagi rangkaian panjang Dies Natalis ke-63.
Program ini juga membawa mahasiswa belajar langsung dari pelaku industri lokal Yogyakarta pada 16 September, dengan mengunjungi tiga tempat yang menawarkan pengalaman berbeda. Di Bakpia Wong, salah satu produsen bakpia di Yogyakarta, mahasiswa tidak hanya menyaksikan proses produksi, tetapi juga turut mencoba membuat bakpia secara langsung. Kunjungan dilanjutkan ke Sweet Sundae, industri olahan susu Yogyakarta yang produknya telah menjangkau pasar mancanegara, di mana mahasiswa mempelajari proses produksi es krim dan produk olahan susu lainnya sekaligus mencicipi hasil produksinya. Kunjungan industri hari itu ditutup di Batik Pertiwi, salah satu produsen batik tulis dan cap di Bantul, tempat mahasiswa belajar membatik menggunakan canting, mengamati keseluruhan proses membatik yang merupakan pengalaman membatik pertama bagi mahasiswa Jepang.