Untuk lebih meningkatkan kinerja dan pengembangan sumber daya manusia (SDM) serta pelayanan terhadap institusi baik internal maupun eksternal, Fakultas Teknologi Pertanian UGM mengadakan pelatihan pelayanan prima bagi tenaga kependidikan di Auditorium Kamarijani Soenjoto, Rabu (18/7) kemarin. Acara pelatihan yang diikuti seluruh tenaga kependidikan tersebut dibuka oleh Dr. Kuncoro Harto Widodo, STP., M.Eng selaku Wakil Dekan Bidang Keuangan, Aset, Sumber Daya Manusia, dan Sistem Informasi.
Dalam sambutan pembukanya Dr. Kuncoro Harto Widodo menyampaikan bahwa pimpinan fakultas sangat menyadari bahwa SDM merupakan salah satu sumber daya terpenting dalam pengelolaan institusi fakultas. Harapannya visi dan misi fakultas bisa terwujud menjadi fakultas yang unggul di bidang Agroindustri dari dukungan sumber daya manusia khususnya dalam hal pelayanan.
“Setelah mengikuti pelatihan ini diharapkan pemahaman dari tenaga kependidikan tentang arti penting excellence service semakin baik , semakin meningkat sehingga benar-benar bisa menjadi bekal untuk meningkatkan dalam memberikan pelayanan dalam tugas sehari-hari sesuai dengan tugas dan fungsinya masing-masing”, ujar Dr. Kuncoro.
Pelayanan prima atau Excellence Service adalah pelayanan yang tidak hanya memenuhi kebutuhan dan harapan pelanggan, namun juga dapat melampauinya secara terkontrol dan berkesinambungan. Sasarannya tidak lagi kepuasan namun loyalitas pelanggan. Demikian yang disampaikan Ferry Anggara selaku pembicara dalam pelatihan tersebut. Master of Ceremony, Trainer Public Speaking – Personality Development, dan juga salah seorang presenter TVRI Yogyakarta tersebut juga menyampaikan bahwa meningkatnya tuntutan pelanggan, pelanggan yang dilindungi oleh hukum, pelanggan yang semakin pintar, dan banyaknya kompetitor lokal atau global yang “bermain” di lahan yang sama merupakan tantangan yang harus dihadapi saat ini dalam hal pelayanan prima.
“Banyak faktor yang dapat mendukung keberhasilan dalam pelayanan yang prima, antara lain penampilan yang serasi, gerak tubuh, ekspresi wajah dan cara merespon lawan bicara. Dan jangan lupa untuk selalu menggunakan Magic Words yaitu maaf, terima kasih, tolong, dan silahkan”, ujar Ferry Anggara sebelum mengakhiri pelatihan. (/Mtt)
Adapun materi yang disampaikan meliputi fundamental supply chain and cold chain yang disertai dengan contoh penerapan teknologi dan rantai pendingin serta tantangan dan peluang rantai pendingin di Indonesia. Peserta yang turut hadir dalam workshop ini merupakan perwakilan berbagai instansi yang memiliki peran dan kepentingan di rantai pendingin, seperti Kementerian Kelautan dan Perikanan, Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian, Bea Cukai Daerah Istimewa Yogyakarta, Dinas Ketahanan Pangan Provinsi Jawa Tengah, Dinas Pertanian dan Perkebunan Provinsi Jawa Tengah, dosen-dosen di lingkungan Universitas Gadjah Mada, Pusat Studi Transportasi dan Logistik UGM, industri-industri di bidang teknologi suhu dingin dan logistik serta beberapa asosiasi seperti ALFI, AFFA, dan ARPI.
Sementara kebutuhan akan air bersih semakin meningkat. Rata-rata penggunaan air masyarakat berkisar antara 169,11 liter/orang/hari hingga 247,36 liter/orang/hari. Bahkan, diprediksikan pada tahun 2025 mendatang Indonesia akan mengalami kelangkaan air bersih akibat ketersediaan air tanah yang tak sebanding dengan penggunaan manusia.
Diah mengatakan ide pembuatan cookies daun sirsak ini berawal dari keikutsertaan mereka dalam Program Kreativitas Mahasiswa UGM 2018. Mereka tercetus untuk membuat biskuit ini karena prihatin dengan pola hidup masyarakat modern yang memiliki kecenderungan mengonsumsi makanan instan dan junk food. Konsumsi makanan tidak sehat dan hidup dalam kondisi lingkungan tercemar dapat memicu radikal bebas dalam tubuh dan dalam jangka panjang bisa memicu zat-zat karsinogenik yang menimbulkan tumor maupun kanker.
Penggunaan pati kulit ubi kayu sebagai dasar pembuatan edible film dipilih karena memakan biaya relatif murah dibandingkan dengan bahan lain, seperti protein maupun lipid dan juga aman. Selain itu, juga ketersediaannya yang cukup melimpah di masyarakat. Bahkan, kulit ubi kayu hanya menjadi limbah yang belum dimanfaatkan secara optimal