Salah satu program untuk lebih mendekatkan kampus kepada masyarakat, Fakultas Teknologi Pertanian UGM tidak hanya mendidik mahasiswa di bangku kuliah tetapi juga turut mengembangkan teknologi yang bisa ditularkan kepada masyarakat luas. Demikian disampaikan Prof. Dr. Ir. Lilik Sutiarso, M.Eng selaku Ketua Panitia Lustrum XI FTP UGM disela-sela acara penyerahan bibit pohon pisang kepada taruna tani di tiga wilayah Bantul, yaitu Pleret, Potorono, dan Sriharjo, Jumat (11/5) siang kemarin di Halaman Fakultas Teknologi Pertanian UGM. Dalam kesempatan tersebut diserahkan kepada masing-masing taruna tani sebanyak 40 bibit pohon pisang yang terdiri atas 20 bibit pohon pisang kepok kuning dan 20 bibit pohon pisang ambon tandan dua. Prof. Lilik berharap fakultas secara bersama-sama bisa terus mendampingi petani untuk mengolah dan menjadikan pisang menjadi pangan lokal sampai siap untuk dipasarkan di masyarakat.
Dalam sambutan singkatnya Dekan FTP UGM Prof. Dr. Ir. Eni Harmayani, M.Sc menyambut baik adanya kegiatan ini yang mempunyai konsep pemberdayaan institusi masyarakat pedesaan berbasis pertanian dengan menggunakan Knowledge Management yang telah dirintis oleh Prof. Dr. Ir. Sigit Supadmo yang merupakan salah satu staff pengajar di Departemen Teknik Pertanian dan Biosistem FTP UGM. (/Mtt)

Dukungan terhadap langkah-langkah pencegahan terorisme juga diutarakan oleh Presiden BEM KM UGM, Obed Kresna. Dalam kesempatan ini, ia menyampaikan bahwa peristiwa terorisme telah menjadi momok yang menakutkan bagi bangsa Indonesia. Oleh karena itu, pemerintah perlu segera mengambil langkah yang tegas untuk memutus rangkaian aksi terorisme di Indonesia.
Kuliner pedas dan penyetan tak hanya populer di Indonesia tetapi juga manca negara. Restoran penyetan yang dikembangkan di Malaysia, Singapura, dan di Timur Tengah seperti Jeddah pun mendapat sambutan luar biasa dari penikmatnya. Hal ini terlihat dengan semakin mudah ditemukannya warung sambal dan penyetan di Malaysia. Nampaknya masyarakat di negeri jiran meyakini bahwa kuliner penyetan dan bercitarasa pedas ini berpotensi menjadi sumber rejeki pasar kuliner mereka, padahal asal-muasalnya dari Surabaya. Selain itu, beberapa jenis sambal seperti sambal bajak, sambal petai, sambal nanas dan sambal terasi telah dipatenkan oleh WN Belanda dan telah diproduksi secara massal di Australia. Jika hal ini dibiarkan begitu saja, tak menutup kemungkinan sambal-sambal asli Indonesia lainnya akan diklaim atau dipatenkan oleh pihak asing.