Fakultas Teknologi Pertanian UGM bersama dengan Yayasan Lumbung Pangan Indonesia menandatangani Perjanjian Kerja Sama (PKS) tentang Gerakan Bangkitnya Lumbung Kami di Operation Room FTP UGM pada Jumat (25/9), untuk mengembangkan gerakan ketahanan pangan dan pemberdayaan masyarakat. Pertemuan ini dihadiri Dekan FTP UGM Prof. Dr. Ir. Eni Harmayani, M.Sc., Wakil Dekan Bidang Penelitian, Pengabdian kepada Masyarakat, Kerjasama, dan Alumni Dr. Sri Rahayoe, S.T.P., M.P., serta jajaran pimpinan departemen dan dosen. Dari pihak yayasan hadir Ketua Dewan Pembina M. Hendro Utomo, S.S., MBA, Ketua Yayasan Wida Septarina, S.S., M.Si., serta pengurus Foodbank of Indonesia (FOI).
Dekan FTP UGM menyambut baik kedatangan Yayasan Lumbung Pangan Indonesia dengan adanya keberlanjutan dan pengembangan kerja sama yang dilakukan oleh FTP UGM dengan Yayasan Lumbung Pangan Indonesia.
“Kegiatan ini diharapkan dapat dikembangkan bersama masyarakat dengan melibatkan akademisi serta yayasan atau lembaga lain yang memiliki perhatian dan kepedulian terhadap isu pangan” Ujar Eni.
Hendro Utomo menyampaikan bahwa pengalaman FOI selama sekitar 11 tahun menunjukkan pembagian makanan lebih tepat disebut solusi darurat (emergency response) yang belum menyelesaikan persoalan secara struktural. Karena itu, menurutnya organisasi kemanusiaan perlu mendorong masyarakat agar mampu menolong dan memberdayakan dirinya sendiri. Pandangan inilah yang melandasi Gerakan Bangkitnya Lumbung Kami, yakni menghidupkan kembali ekosistem pangan di desa.
Ruang lingkup PKS ini mencakup penelitian dan publikasi mengenai lumbung pangan, pangan lokal, dan budaya pertanian dari sudut pandang ilmu teknologi pertanian, serta hasil riset beragam varietas benih lokal. Kedua pihak juga akan mendampingi pengembangan Lumbung Mustikarasa di Dusun Pacarejo, Kecamatan Semanu, Kabupaten Gunungkidul, dan menyusun buku bunga rampai “Bangkitnya Lumbung Kami”. Sebagai sarana kaderisasi dan pembelajaran bagi mahasiswa, termasuk mahasiswa FTP UGM, akan digelar Rembug Pangan Orang Muda. Kerja sama ini turut mencakup inisiasi Pasar Rakyat Mustikarasa, yakni UMKM setempat menampilkan kreasi dan olahan pangan lokal sebagai pengenalan kuliner lokal di lingkungan universitas.
Pembahasan juga menyinggung rencana pendampingan petani muda di Sriharjo, Bantul, yang diusulkan menjadi lokasi pilot project. Prof. Dr. Ir. Sigit Supadmo Arif, M.Eng., dan kelompok Taruna Tani yang mulai memanfaatkan teknologi. Prof. Dr. Mirwan Ushada, S.T.P., M.App.Life.Sc., menilai inisiatif ini berpeluang menjadi flagship program pemberdayaan masyarakat FTP UGM, dengan catatan dampaknya perlu diukur secara konkret pada satu lokasi yang sama dan dapat dikembangkan menjadi policy brief
.
Kegiatan ini turut mendukung pencapaian Sustainable Development Goals (SDGs), yaitu SDG 1 Tanpa Kemiskinan, SDG 2 Tanpa Kelaparan, dan SDG 17 Kemitraan untuk Mencapai Tujuan.
penulis : Shella Herdanti
Dalam satu dekade kepemimpinannya di FTP UGM yang sekaligus menjadi tahun terakhir masa jabatannya, Dekan FTP UGM, Prof. Dr. Ir. Eni Harmayani, M.Sc., menegaskan pentingnya menjaga semangat untuk terus bertumbuh dan memberikan kontribusi nyata. Perjalanan FTP UGM selama 63 tahun, menurutnya, bukan sekadar catatan capaian, melainkan pijakan untuk terus memperkuat peran fakultas dalam menjawab tantangan pangan dan agroindustri Indonesia, semangat yang diwujudkan melalui penguatan pendidikan, penelitian, inovasi, dan kolaborasi agar FTP UGM mampu terus menghadirkan solusi yang relevan bagi masyarakat dan masa depan.
Sebagai penutup, Harfest 2026 menghadirkan penampilan spesial dari Olski, band lokal ternama asal Yogyakarta, yang turut membuka pintu acara bagi masyarakat umum, tidak hanya bagi mahasiswa FTP UGM. Antusiasme peserta terlihat jelas sepanjang malam, menjadikan Harfest 2026 sebagai penutup yang meriah bagi rangkaian panjang Dies Natalis ke-63.
Program ini juga membawa mahasiswa belajar langsung dari pelaku industri lokal Yogyakarta pada 16 September, dengan mengunjungi tiga tempat yang menawarkan pengalaman berbeda. Di Bakpia Wong, salah satu produsen bakpia di Yogyakarta, mahasiswa tidak hanya menyaksikan proses produksi, tetapi juga turut mencoba membuat bakpia secara langsung. Kunjungan dilanjutkan ke Sweet Sundae, industri olahan susu Yogyakarta yang produknya telah menjangkau pasar mancanegara, di mana mahasiswa mempelajari proses produksi es krim dan produk olahan susu lainnya sekaligus mencicipi hasil produksinya. Kunjungan industri hari itu ditutup di Batik Pertiwi, salah satu produsen batik tulis dan cap di Bantul, tempat mahasiswa belajar membatik menggunakan canting, mengamati keseluruhan proses membatik yang merupakan pengalaman membatik pertama bagi mahasiswa Jepang.
Deputy Vice-Chancellor for Teaching and Learning NUST, Ms. Teresia Kaulihowa, menyampaikan ketertarikan NUST untuk membangun hubungan dengan UGM. Kedua institusi dinilai memiliki perhatian yang serupa pada research, education, dan community engagement, khususnya dalam mendorong perguruan tinggi agar dapat memberikan solusi bagi persoalan yang dihadapi masyarakat.