Fakultas Teknologi Pertanian (FTP) Universitas Gadjah Mada (UGM) bersama School of Agriculture, Food and Ecosystem Sciences, Faculty of Science, University of Melbourne, resmi meluncurkan program double degree yang memungkinkan mahasiswa menempuh satu tahun studi di UGM dan satu tahun di University of Melbourne. Peluncuran program yang menjadi kolaborasi double degree pertama antara kedua institusi ini berlangsung melalui Research Talk Universitas Gadjah Mada-University of Melbourne Double Degree Program: Yogyakarta Campus Launch Event Master in Agro-Industrial Technology UGM and Master of Agricultural Science UoM di Operation Room FTP UGM, Rabu (26/8). Program ini dirancang untuk memperkuat kapasitas mahasiswa dalam menghadapi tantangan ketahanan pangan, pertanian berkelanjutan, dan agroindustri melalui pengalaman akademik serta riset di Indonesia dan Australia.
Dekan FTP UGM, Prof. Dr. Ir. Eni Harmayani, M.Sc., mengatakan program ini menjadi langkah penting dalam memperluas pengalaman akademik mahasiswa melalui lingkungan pendidikan yang berbeda. Melalui skema 1+1, mahasiswa akan menjalani tahun pertama di Program Studi Magister Teknologi Industri Pertanian FTP UGM, kemudian melanjutkan tahun kedua di Program Studi Master of Agricultural Science (Specialization in Agribusiness or Food Sustainability), School of Agriculture, Food and Ecosystem Sciences, Faculty of Science, University of Melbourne dan menyelesaikan studi dengan memperoleh dua ijazah dan dua gelar dari kedua universitas.
“Melalui kolaborasi ini, kami berharap dapat memberikan perspektif kepada para calon pemimpin masa depan untuk lebih memahami dan menghargai berbagai situasi di negara yang berbeda,” ujar Prof. Eni.
Kolaborasi tersebut tidak hanya menawarkan pengalaman belajar di dua negara, tetapi juga membuka kesempatan bagi mahasiswa untuk mengembangkan kapasitas riset dalam lingkungan akademik internasional. Associate Professor Dorin Gupta, Director of Graduate Research School of Agriculture, Food and Ecosystem Sciences, Faculty of Science, University of Melbourne, menjelaskan bahwa mahasiswa akan memperoleh pengalaman belajar dari dua lingkungan akademik sekaligus, termasuk kesempatan mengembangkan penelitian pada tahun kedua di Melbourne.
“Melalui program ini, mahasiswa mendapatkan keahlian dan bimbingan dari kedua negara sekaligus memperluas kapasitas riset mereka,” tutur Dorin.
Menurutnya, pengalaman tersebut menjadi penting karena tantangan pangan tidak mengenal batas negara. Indonesia dan Australia menghadapi sejumlah persoalan yang sama, seperti perubahan iklim, keberlanjutan produksi pangan, dan kebutuhan memastikan ketersediaan pangan bagi generasi mendatang. Namun, masing-masing negara juga memiliki keahlian dan tantangan yang berbeda.
“Ketika kita menggabungkan keahlian yang ada di masing-masing universitas, kita akan lebih siap menemukan solusi untuk mempertahankan produksi pangan dan memastikan ketersediaan pangan bagi semua orang, baik di Indonesia, Australia, maupun di seluruh dunia,” jelasnya.
Dorin juga melihat mahasiswa sebagai bagian penting dari keberlanjutan hubungan akademik kedua negara. Ia berharap lulusan program ini dapat membawa pengetahuan yang diperoleh di Melbourne kembali ke Indonesia sekaligus menjadi penghubung dalam memperkuat kerja sama Indonesia dan Australia.
“Saya ingin menyampaikan kepada mahasiswa Indonesia, datanglah ke Australia, datanglah ke Melbourne. Ini adalah kesempatan untuk berpikir lebih luas dan berkembang melampaui apa yang sudah kalian miliki di negara sendiri,” ungkap Dorin.
Program double degree ini direncanakan mulai berjalan pada 2027 dengan dukungan Lembaga Pengelola Dana Pendidikan (LPDP) dan pemerintah Australia. Pada angkatan pertama, program ditargetkan menerima 15 mahasiswa. Bidang yang dapat dikembangkan mencakup teknologi agroindustri, keberlanjutan, keamanan pangan, serta bidang terkait dalam kajian pertanian dan sistem pangan.
Peluncuran program kemudian dilengkapi dengan Research Talk yang menghadirkan peneliti dari School of Agriculture, Food and Ecosystem Sciences, Faculty of Science, University of Melbourne dan FTP UGM. Dorin Gupta membawakan topik Improving Food Security through Sustainable Agriculture and Global Partnerships, yang menekankan pentingnya kemitraan global dalam menjawab tantangan ketahanan pangan.
Sementara itu, Dr. Antanas Spokevicius, Director of Postgraduate Education School of Agriculture, Food and Ecosystem Sciences, Faculty of Science, University of Melbourne, membahas Tropical Plantation Forestry and Wood Properties; A Long-Lived Crop. Prof. Dr. Kuncoro Harto Widodo, Guru Besar Departemen Teknologi Industri Pertanian FTP UGM, melengkapi sesi dengan pembahasan Logistics & Supply Chain in Indonesia: An Archipelagic State, yang mengangkat tantangan distribusi pangan dan hasil pertanian di Indonesia sebagai negara kepulauan.
Rangkaian kegiatan ditutup dengan diskusi yang melibatkan mahasiswa dan dosen FTP UGM. Pertanyaan yang muncul tidak hanya membahas topik riset, tetapi juga peluang penelitian dan mekanisme mengikuti program double degree. Antusiasme peserta menunjukkan bahwa kolaborasi ini membuka ruang baru bagi civitas akademika FTP UGM untuk mengembangkan studi, riset, dan jejaring akademik lintas negara.
Bagi kedua institusi, program ini menjadi pijakan untuk membangun kerja sama yang lebih luas pada masa mendatang, termasuk peluang penelitian bersama, mobilitas mahasiswa, dan pengembangan program pendidikan kolaboratif. Bagi mahasiswa, pengalaman belajar di Yogyakarta dan Melbourne diharapkan tidak berhenti pada dua gelar, tetapi menjadi bekal untuk memahami persoalan pangan dari perspektif yang lebih luas dan menghadirkan solusi yang relevan bagi Indonesia maupun dunia.
Kolaborasi FTP UGM dan Faculty of Science, University of Melbourne ini sekaligus berkontribusi pada pencapaian Sustainable Development Goals (SDGs), khususnya SDG 2 melalui penguatan riset ketahanan pangan dan pertanian berkelanjutan, SDG 4 melalui perluasan akses pendidikan berkualitas berorientasi global, serta SDG 17 melalui penguatan kemitraan strategis antara Indonesia dan Australia.