Fakultas Teknologi Pertanian (FTP) Universitas Gadjah Mada (UGM) memperkuat kolaborasi dengan Badan Riset dan Inovasi Daerah (BRIDA) Kota Semarang melalui penandatanganan Perjanjian Kerja Sama (PKS) dan Kontrak Kerja Sama Swakelola yang dilanjutkan dengan diskusi tindak lanjut Kajian Potensi Pengembangan Urban Gastronomy di Kota Semarang pada Rabu (5/8) di Operation Room FTP UGM. Kolaborasi ini menjadi langkah awal penyusunan kajian berbasis riset untuk memperkuat produk unggulan gastronomi Kota Semarang sebagai bagian dari strategi city branding dan pengembangan ekonomi kreatif.
Dalam diskusi, Kepala BRIDA Kota Semarang, Dr. Bagus Irawan, S.T., M.T., M.Eng. menyampaikan pengembangan gastronomi sebagai upaya strategis yang mendukung penguatan branding produk unggulan Kota Semarang dalam rangka akselerasi pertumbuhan ekonomi kreatif. Selain itu, Asdani Kindarto, S.Sos., M.Eng., Ph.D. sebagai kepala bidang penelitian dan pengembangan BRIDA Kota Semarang menekankan bahwa pengembangan gastronomi memerlukan pendekatan yang tidak hanya melihat produk kuliner, tetapi juga mengintegrasikan nilai budaya yang selama ini masih tersebar dalam berbagai narasi. Menurutnya, fondasi gastronomi yang kuat akan menjadi modal penting dalam membangun identitas kota.
“Diplomasi yang baik dimulai dari perut. Karena itu, penguatan fondasi kuliner akan mempermudah pencapaian city branding Kota Semarang,” ujarnya.
Menanggapi hal tersebut, Ketua Pusat Unggulan Iptek Perguruan Tinggi (PUI-PT) Gastronomi Indonesia (GI) UGM, Bambang Dwi Wijatniko, S.T.P., M.Agr.Sc., M.Sc., Ph.D., menjelaskan bahwa pengembangan urban gastronomy memerlukan standar yang mampu menjaga identitas sekaligus kualitas produk kuliner daerah. Menurutnya, proses tersebut tidak berhenti pada inventarisasi makanan khas, tetapi juga mencakup aspek keamanan pangan, pemasaran, dan keberlanjutan produk.
“Standarisasi resep berfungsi sebagai penegas identitas produk. Di samping variasi resep, faktor utama yang wajib diperhatikan adalah sanitasi, branding, dan umur simpan (shelf life),” jelas Bambang.
Ia menambahkan bahwa salah satu syarat sebuah kota untuk memperoleh pengakuan sebagai UNESCO Creative City of Gastronomy adalah memiliki sedikitnya tiga produk kuliner unggulan, menyelenggarakan seminar secara berkala, serta menyusun laporan tahunan mengenai pengembangan produk dan kegiatan gastronomi. Menurutnya, kegiatan seperti seminar dan masterclass menjadi bagian penting dalam membangun ekosistem gastronomi yang berkelanjutan.
Sementara itu, Prof. Dr. Ir. Eni Harmayani, M.Sc., Dekan FTP UGM, menyampaikan bahwa kajian yang akan dilakukan tidak hanya berorientasi pada identifikasi potensi kuliner, tetapi juga menghasilkan rekomendasi ilmiah yang dapat dimanfaatkan pemerintah daerah dalam menyusun strategi pengembangan gastronomi. Kajian tersebut akan berfokus pada co-creation value dan kondisi eksisting, keragaman kuliner sebagai identitas daerah, serta sejarah dan akulturasi budaya yang membentuk kekayaan kuliner Kota Semarang.
Masukan terhadap pendekatan penelitian juga disampaikan oleh Dr. Dwi Larasatie Nur Fibri, S.T.P., M.Sc., yang menilai pentingnya penyusunan instrumen survei yang komprehensif serta penggunaan metode analisis yang sesuai untuk mengolah data pada skala makro. Selain itu, dokumentasi kuliner yang terstruktur dinilai menjadi langkah penting untuk memperkuat identitas gastronomi daerah dan meningkatkan kesadaran masyarakat terhadap kekayaan kuliner lokal.
Melalui kerja sama ini, FTP UGM bersama BRIDA dan Bappeda Kota Semarang berharap dapat menghasilkan kajian yang tidak hanya memperkuat identitas kuliner Kota Semarang, tetapi juga menjadi dasar penyusunan kebijakan berbasis riset dalam pengembangan urban gastronomy. Kolaborasi ini diharapkan mampu mendorong peningkatan daya saing daerah melalui pelestarian warisan kuliner, penguatan ekonomi kreatif, serta pengembangan jejaring gastronomi di tingkat nasional maupun internasional.
Kegiatan ini mendukung pencapaian Sustainable Development Goals (SDGs), khususnya SDG 11: Sustainable Cities and Communities (Kota dan Permukiman yang Berkelanjutan) melalui penguatan identitas kota berbasis warisan kuliner, SDG 8: Decent Work and Economic Growth (Pekerjaan Layak dan Pertumbuhan Ekonomi) melalui pengembangan ekonomi kreatif berbasis gastronomi, serta SDG 17: Partnerships for the Goals (Kemitraan untuk Mencapai Tujuan) melalui kolaborasi antara perguruan tinggi dan pemerintah daerah dalam menghasilkan kebijakan berbasis riset.