Menekan susut pangan lewat teknologi pascapanen yang tepat sasaran menjadi tujuan bersama Fakultas Teknologi Pertanian (FTP) Universitas Gadjah Mada (UGM) dan pemerintah pusat. Tujuan itu diwujudkan melalui rapat persiapan dan penandatanganan Kontrak Swakelola Tipe II antara FTP UGM dan Direktorat Perencanaan Peningkatan Produktivitas dan Pembangunan Tematik (P4T) Kementerian Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas), yang digelar Jumat (9/10) di Operation Room FTP UGM. Kontrak yang mencakup kajian penentuan lokasi prioritas dan pemilihan set teknologi pascapanen berbasis karakteristik wilayah ini ditandatangani oleh Wakil Dekan Bidang Penelitian, Pengabdian kepada Masyarakat, dan Kerja Sama FTP UGM, Dr. Sri Rahayoe, S.T.P., M.P., dan Direktur P4T Bappenas, Uke Mohammad Hussein, S.Si., MPP.
Dekan FTP UGM, Prof. Dr. Mirwan Ushada, S.T.P., M.App.Life.Sc., menyampaikan komitmen fakultas untuk melanjutkan program yang telah dirintis dekan periode sebelumnya, sembari mempertajam pelaksanaannya agar manfaatnya menjangkau lebih luas dan terarah sesuai dengan fokus utama FTP UGM terkait penguatan hilirisasi dengan kolaborasi agar memberikan dampak yang nyata.
“Kata kunci fokus utama FTP UGM adalah penguatan hilirisasi melalui ekosistem kolaborasi untuk dampak yang berkelanjutan,” ujar Mirwan.

Untuk mewujudkan arah tersebut, FTP UGM membawa modal laboratorium pengujian dan kapasitas penelitian yang dimiliki fakultas.Fakultas juga tengah menyusun prosedur agar pelaksanaan kerja sama berjalan lebih cepat, responsif, dan aman, dengan tetap memenuhi standar penjaminan mutu.
“FTP mempunyai kepakaran berbasis scientific yang siap untuk membantu pemerintah untuk memecahkan permasalahan di masyarakat sesuai dengan bidang kami,” kata Mirwan.
Dari sisi pemerintah, Direktur P4T Bappenas memaparkan bahwa direktoratnya dibentuk pada 2025 sebagai bagian dari struktur organisasi dan tata kerja baru Bappenas. Dalam pengembangan kebijakan tematik, perhatian diarahkan pada ekonomi hijau, ekonomi biru, dan ekonomi oranye. Swasembada pangan, termasuk penanganan persoalan pascapanen, menjadi salah satu fokus di bidang ekonomi hijau. Ia juga menyoroti perlunya pembinaan industri alat dan mesin pertanian nasional bersama Kementerian Perindustrian agar produknya memenuhi standar dan ketergantungan pada komponen impor dapat berkurang.
Direktur P4T Bappenas berharap kerja sama ini membawa hasil yang konkret bagi sektor pertanian.
“Semoga dengan adanya kerja sama ini dapat memberikan dampak yang nyata di sektor pertanian,” ujarnya.

Melalui kontrak swakelola ini, FTP UGM akan menyusun dua keluaran utama, yaitu rekomendasi penetapan lokasi prioritas yang dianalisis berdasarkan karakteristik wilayah dan tingkat susut pangan, serta rekomendasi set alat dan mesin pertanian nasional yang sesuai dengan karakteristik wilayah. FTP UGM juga akan menganalisis tingkat kejenuhan wilayah untuk mendukung penentuan kebutuhan dan penyaluran bantuan alsintan agar lebih tepat sasaran. Hasil kajian diharapkan menjadi rekomendasi kebijakan bagi penyediaan sarana dan prasarana pascapanen yang lebih tepat sasaran dan tepat guna.
Bagi FTP UGM, kerja sama ini diharapkan memberi manfaat berkelanjutan bagi pemerintah, industri, dan masyarakat, sekaligus menjadi ruang pengembangan kompetensi mahasiswa dan alumni sebagai bagian dari proses bisnis utama fakultas.
Kegiatan ini turut mendukung pencapaian Sustainable Development Goals (SDGs), khususnya SDG 2 Tanpa Kelaparan melalui upaya menekan susut pangan, SDG 12 Konsumsi dan Produksi yang Bertanggung Jawab melalui rekomendasi teknologi pascapanen yang tepat guna, serta SDG 17 Kemitraan untuk Mencapai Tujuan melalui kolaborasi FTP UGM dengan Bappenas.
Kontributor: Shella