Sebanyak 44 mahasiswa dari Universitas Gadjah Mada dan National University of Singapore (NUS) mengikuti kegiatan Southeast Asia Friendship Initiative yang berlangsung pada 21–22 Mei 2026. Melalui program ini, mahasiswa diajak mempelajari rantai pasok pangan dan pengembangan industri lokal melalui diskusi potensi salak pondoh di hari pertama dan kunjungan ke industri jamur dan cokelat di Yogyakarta di hari kedua.
Kegiatan yang diinisiasi oleh King Edward VII Hall NUS tersebut menjadi wadah pertukaran wawasan dan pengalaman bagi mahasiswa UGM dan NUS dalam memahami sistem pangan berkelanjutan di Asia Tenggara, khususnya Indonesia. Selain mengikuti sesi diskusi dan pemaparan materi di Fakultas Teknologi Pertanian (FTP) UGM, peserta juga mendapatkan pengalaman langsung melihat proses produksi dan pengolahan pangan di industri lokal.
Pada hari pertama, 21 Mei 2026, peserta mengikuti pemaparan materi mengenai Fresh Agricultural Supply Chain Management yang disampaikan oleh dosen FTP UGM, Prof. Dr. Kuncoro Harto Widodo, S.T.P., M.Eng. Materi tersebut membahas pengelolaan rantai pasok pangan segar agar kualitas produk tetap terjaga hingga sampai ke konsumen. Setelahnya, mahasiswa NUS & UGM dibagi dalam beberapa kelompok untuk mendiskusikan potensi salak pondoh untuk dapat dipasarkan di Singapura, tentunya dengan mengacu pada pengelolaan rantai pasok pangan segar dan basis pengetahuan lintas disiplin yang dimiliki masing-masing mahasiswa.
Selanjutnya pada hari kedua, 22 Mei 2026, peserta mengunjungi industri jamur untuk mempelajari proses budidaya, pengolahan, hingga distribusi produk pangan berbasis jamur. Sementara pada industri cokelat, mahasiswa dikenalkan pada proses pengolahan kakao menjadi produk siap konsumsi serta pengembangan bisnis berbasis potensi lokal.
Dekan FTP UGM, Prof. Dr. Ir. Eni Harmayani, M.Sc., menyampaikan bahwa kegiatan ini menjadi sarana pembelajaran langsung bagi mahasiswa terkait tantangan ketahanan pangan dan pembangunan berkelanjutan.
“Tantangan terkait ketahanan pangan, perubahan iklim, hingga pertanian berkelanjutan membutuhkan kolaborasi lintas negara dan keterlibatan aktif perguruan tinggi sebagai pusat pengetahuan dan inovasi,” ujarnya saat pembukaan kegiatan di FTP UGM, Kamis (21/5).
Menurut Eni, pengalaman belajar langsung di lapangan penting untuk memperluas wawasan mahasiswa mengenai sistem pangan, mulai dari produksi hingga distribusi.
“Kami berharap kegiatan ini dapat memperkuat kolaborasi mahasiswa sekaligus mendorong lahirnya gagasan inovatif untuk mendukung sistem pangan yang berkelanjutan,” tuturnya.
Kepala Kantor Urusan Internasional UGM, Tyas Ikhsan Hikmawan, S.Si., M.S., Ph.D., menilai kegiatan ini menjadi ruang kolaborasi mahasiswa lintas negara untuk memahami isu Sustainable Development Goals (SDGs), khususnya tujuan kedua tentang Zero Hunger.
“Solusi global membutuhkan persahabatan global,” ungkapnya.
Sementara itu, perwakilan King Edward VII Hall NUS, Dr. Giuseppe Timperio, menyampaikan bahwa Southeast Asia Friendship Initiative pertama kali diselenggarakan pada tahun 2023 untuk memperkuat pemahaman generasi muda terhadap isu kesejahteraan dan keberlanjutan di Asia Tenggara.
“UGM merupakan mitra strategis bagi NUS. Saya sangat senang mengetahui bahwa UGM, seperti NUS, juga memberikan perhatian terhadap kesejahteraan pangan,” ujarnya.
Melalui kegiatan ini, mahasiswa UGM dan NUS diharapkan dapat memperluas wawasan global, memahami pengembangan industri pangan lokal, serta membangun jejaring kolaborasi antar mahasiswa Asia Tenggara.