Agricultural Engineering Annual Regional Convention (ARC) yang berlangsung di Kota Bharu, Malaysia, 23-25 September 2019 adalah suatu pertemuan mahasiswa Teknik Pertanian di Asean. ARC menjadi ajang untuk saling berbagi sekaligus berkompetisi tentang berbagai hal terkait teknik pertanian. Tahun 2019, ARC diselenggarakan di Politeknik Kota Bharu, Kelantan, Malaysia dan diikuti oleh sekitar 200 peserta dari berbagai perguruan tinggi di Philipina, Thailand, Indonesia, dan tuan rumah Malaysia. Universitas Gadjah Mada (UGM) berpartisipasi pada pertemuan ini dengan menurunkan enam mahasiswa Fakultas Teknologi Pertanian (FTP) yaitu Mira Aprilia Nur Fadilah, Aulia Rizkiana, Anjar Firmansyah, M. Soleh Hidayat, Abipraya Wibawa Jati, dan M. Akbar Andi Arief dengan dosen pendamping Dr. Andri Prima Nugroho dan Dr. Murtiningrum.

presentasi inovasi produk di hadapan juri
Dalam ARC 2019, mahasiswa FTP UGM telah mengukir beberapa prestasi, yaitu:
1. Anjar Firmansyah meraih medali emas pada presentasi ilmiah “Recent issues in agriculture and food engineering” dengan membawakan tema “Role of Agricultural Mechanization towards Sustainable Development Goals” dengan dosen pendamping Dr. Andri Prima Nugroho.
2. Mira Aprilia meraih medali perak pada presentasi ilmiah “Recent issues in agriculture and food engineering” dengan membawakan tema “Sustainable and productive land and water” dengan dosen pendamping Dr. Murtiningrum.
3. M. Soleh Hidayat, Abipraya Wibawajati, dan Anjar Firmansyah memperoleh medali perunggu pada lomba product innovation dengan menampilkan inovasi bertema “Agriculture smart monitoring system”
4. M. Akbar Andi Arief dan Abipraya Wibawa Jati juara harapan lomba tractor part identification
5. M. Akbar Andi Arief dan Aulia Rizkiana juara harapan lomba Mini tractor competition.
Selain sebagai ajang kompetisi, ARC juga menjadi sarana mahasiswa teknik pertanian untuk saling berbagi pengalaman. Dengan mengikuti ARC, mahasiswa dapat menambah wawasan dan pengalaman yang akan diperlukan di masa mendatang. Departemen Teknik Pertanian dan Biosistem mendukung keikutsertaan mahasiswa untuk mengikuti ARC agar mahasiswa memperoleh manfaat dari kegiatan ini.(tpb)
Rektor UGM, Prof. Ir. Panut Mulyono, M.Eng., D.Eng., I.P.U. menyatakan, UGM bangga dengan keberadaan FTP dengan segala prestasinya di bidang pendidikan, penelitian dan pengabdian kepada masyarakat dan kerja sama. “Prestasi FTP di tingkat nasional tidak diragukan lagi. Untuk menjadikan FTP UGM referensi dunia tentu diperlukan usaha yang lebih giat lagi dalam peningkatan kerja sama di berbagai bidang dengan para mitra, baik mitra nasional maupun mitra internasional. Juga, peningkatan jumlah publikasi hasil-hasil riset di forum dan jurnal tingkat internasional bereputasi dan mengusahakan lebih banyak lagi,” harapnya.
Dies Natalis tahun ini mengambil tema Penguatan Peran Teknologi Pertanian dalam Pengembangan dan Inovasi Agroindustri Indonesia di Era Digital. Prof. Eni Harmayani menuturkan langkah dasar yang diperlukan untuk menunjang implementasi inovasi di bidang ini adalah meningkatkan kompetensi sumber daya manusia melalui program yang terpadu.
Pada tahun ini diberikan pula cinderamata bagi para dosen dan tenaga kependidikan purna tugas sebagai bentuk rasa syukur dan penghargaan atas dedikasi bagi FTP UGM. Wakil Dekan Bidang Keuangan, Aset, Sumber Daya Manusia dan Sistem Informasi, Dr. Kuncoro Harto Widodo, S.T.P., M.Eng. mengumumkan secara langsung insan berprestasi FTP UGM tahun 2019, mereka adalah 3 dosen dari 3 departemen, Dr. Widiastuti Setyaningsih, S.T.P., M.Sc., Arifin Dwi Saputro, S.T.P., M.Sc., Ph.D., Dr. Nafis Khuriyati, S.T.P., M.Agr., juga 3 orang tenaga kependidikan yaitu, Endry Kurniawan, Sri Widyati, dan Jumino. Sebagai bentuk sinergi alumni dan FTP UGM, pada kesempatan tersebut diumumkan pula lomba penulisan artikel ilmiah populer dengan tema : “My healthy food” yang diinisiasi oleh KAGAMA TP Pengda DIY.
Pada akhir sesi acara dilakukan penandatanganan 2 MoU antara FTP UGM dengan Universitas Muhadi Setiabudi Brebes dalam bidang Pendidikan, Penelitian, dan Pengabdian kepada Masyarakat dan pengembangannya, dan yang kedua antara FTP UGM dengan Asosiasi Petani Kelapa Sawit Indonesia dalam bidang penelitian, pengembangan SDM dan pengabdian dalam rangka Pengembangan Perkebunan Kelapa Sawit Rakyat Indonesia.
Negara Kesatuan Republik Indonesia terdiri dari ribuan pulau dan dihuni lebih dari seribu etnis yang hidup bersama dengan kekayaan seni dapurnya. Ditunjang dengan kekayaan biodiversity yang terdiri atas bahan pangan nabati dan hewani, serta lebih dari 120 ragam bumbu, bisa dibayangkan bahwa Indonesia adalah dapur gastronomi terbesar di dunia. Informasi mutakhir dari berbagai penelitian tentang nilai fungsional bahan pangan, rempah, serta rimpang atau rizoma menunjukkan sangat besar manfaatnya untuk kesehatan penikmat hasil seni dapur Indonesia. Apabila nilai fungsional ini dipadukan dengan ragam teknik memasak maka jadilah hasil berupa hidangan yang nikmat dan eksotik untuk membangun kualitas kehidupan bangsa. Bukti keunggulan kuliner Indonesia juga ditunjukkan oleh produk kuliner fermentasi asli Indonesia yang digunakan dalam memasak dan menikmati makanan. Oleh karena itu, diperlukan promosi ragam kuliner sehat berbasis biodiversity Indonesia sebagai kekayaan budaya untuk membangun persatuan bangsa.



Bertempat di Auditorium Kamarijani-Soenjoto, Fakultas Teknologi Pertanian UGM, seminar yang berlangsung tanggal 4-5 September 2019 ini menghadirkan pembicara ahli dari kalangan sejarawan, jurnalis, pengusaha, dan akademisi, antara lain Andreas Maryoto dan Fadly Rahman di bidang sejarah kuliner Indonesia, Ir. Benyamin Mangitung tentang potensi produksi dan konsumsi ikan, Prof. Dr. Ir. Y. Marsono, M.S. tentang aspek gizi pengolahan pangan, Santhi Serad tentang manfaat rempah, dan Dekan FTP UGM, Prof. Dr. Ir. Eni Harmayani, M.Sc. tentang nilai fungsionalitas produk fermentasi asli Indonesia. Para akademisi dan peneliti juga diberi kesempatan untuk mempresentasikan makalah dengan tema “Mengungkap Kuliner Sehat Berbasis Biodiversity Indonesia”. Paper pemakalah dimuat di prosiding seminar yang tersedia secara online dengan ISBN.
Acara dikemas lebih menarik dengan Cooking Demo oleh chef ternama, Bara Pattiradjawane yang menyajikan dua resep makanan berbasis sayuran dan ikan, yaitu ikan kukus bumbu tauco dan kohu-kohu khas Maluku, daerah asal sang chef. Perwakilan peserta seminar juga diberi kesempatan untuk terlibat langsung dalam memasak bersama chef Bara. Antusiasme peserta juga terlihat dari banyaknya pertanyaan terlontar dan interaksi yang cukup dekat dengan chef Bara.
Manfaat yang lebih besar bisa diperoleh dengan disampaikannya cerita tentang tata cara makan dan minum sebagai pengantar dalam menikmati hidangan yang dapat membangun emosi selama menikmati makanan, seperti yang disampaikan oleh Prof. Dr. Ir. Murdijati Gardjito bersama Paguyuban Bangsawan Yogyakarta, Sapta Wandawa. Dalam sesi ini dijelaskan prosesi “ngunjuk loloh“, yaitu cara minum jamu di kalangan para bangsawan di Yogyakarta menggunakan ramuan dan peralatan khusus. Juga dijelaskan “ladosan dhahar Dalem“, yaitu tata cara makan para raja di Yogyakarta dengan susunan peralatan makan dan minum yang digunakan untuk menyajikan dhahar Dalem.

Dalam pidatonya Prof. Lilik mengatakan bahwa upaya untuk mencapai visi pertanian Indoneia menjadi lumbung pangan dunia 2045 menghadapi beberapa kendala seperti berkurangnya kepentingan pertanian dilihat dari proporsi PDRB, peningkatan beban pertanian karena pertambahan jumlah penduduk, konversi ke penggunan lahan menjadi non pertanian. Pertanian Indonesia juga terdampak perubahan iklim yang ditandai dengan perubahan pola hujan yang mempengaruhi kestabilan produktivitas pertanian. Beberapa langkah yang telah ditempuh pemerintah Indonesia berfokus pada infrastruktur.
Pada bagian akhir pidato Prof. Lilik, disampaikan bahwa alam pengembangan sistem pertanian modern terpadu dan berkelanjutan, human capital menjadi komponen utama sistem yang tidak terlihat (intangible asset). Human capital memiliki fungsi sebagai daya penggerak utama proses reformasi pembangunan pertanian modern yang berkelanjutan. Transisi menuju pembangunan pertanian modern berkelanjutan membutuhkan peningkatan produktivitas tenaga kerja dalam sektor pertanian. Peningkatkan produktivitas memerlukan penguatan tingkat modal manusia (human capital) yang merupakan akumulasi pengetahuan melalui proses jangka panjang pada pengembangan sumberdaya manusia. Peningkatan produktivitas, efisiensi, daya saing dan nilai tambah dalam system pertanian dapat ditingkatkan melalui upaya pengembangan inovasi teknologi pertanian cerdas berbasis human capital.(/tpb)