Prof. Dr. Ir. Lilik Sutiarso, M.Eng. melaksanakan pidato pegukuhan sebagai Guru Besar Fakultas Teknologi Pertanian Universitas Gadjah Mada dalam bidang Sistem dan Mesin Pertanian. Pidato pengukuhan berjudul “Konsep Human Capital sebagai Platform dalam Pengembangan Teknologi Pertanian Cerdas” disampaikan di depan rapat terbuka Dewan Guru Besar pada tanggal 3 September 2019.
Dalam pidatonya Prof. Lilik mengatakan bahwa upaya untuk mencapai visi pertanian Indoneia menjadi lumbung pangan dunia 2045 menghadapi beberapa kendala seperti berkurangnya kepentingan pertanian dilihat dari proporsi PDRB, peningkatan beban pertanian karena pertambahan jumlah penduduk, konversi ke penggunan lahan menjadi non pertanian. Pertanian Indonesia juga terdampak perubahan iklim yang ditandai dengan perubahan pola hujan yang mempengaruhi kestabilan produktivitas pertanian. Beberapa langkah yang telah ditempuh pemerintah Indonesia berfokus pada infrastruktur.
Menurut Prof. Lilik, pertanian modern adalah suatu sistem yang menggambarkan perubahan paradigma dalam pembangunan pertanian untuk meningkatkan produktivitas, menjamin keamanan pangan secara mandiri dan berkelanjutan. Perubahan paradigma pembangunan pertanian menjadi pertanian modern memerlukan kesiapan berbagai aspek dan mempertimbangkan potensi sumberdaya. Kunci percepatan transformasi pembangunan pertanian modern adalah kualitas SDM pertanian yang mengungkit keunggulan komparatif menjadi kompetitif. Untuk itu diperlukan teknologi pertanian cerdas yang dibangun menggunakan prinsip optimasi dan sinergi antara pengetahuan dan berbagai teknologi yang sudah ada. Teknologi pertanian cerdas memerlukan standardisasi teknologi yang kompatibel dengan berbagai perangkat serta pembangunan infrastruktur teknologi informasi dan komunikasi. Lebih dari itu, pembangunan pertanian cerdas sangat memerlukan ketrampilan dan pengetahuan SDM pertanian dalam mengakses dan menggunakan teknologi pertanian cerdas.
Pada bagian akhir pidato Prof. Lilik, disampaikan bahwa alam pengembangan sistem pertanian modern terpadu dan berkelanjutan, human capital menjadi komponen utama sistem yang tidak terlihat (intangible asset). Human capital memiliki fungsi sebagai daya penggerak utama proses reformasi pembangunan pertanian modern yang berkelanjutan. Transisi menuju pembangunan pertanian modern berkelanjutan membutuhkan peningkatan produktivitas tenaga kerja dalam sektor pertanian. Peningkatkan produktivitas memerlukan penguatan tingkat modal manusia (human capital) yang merupakan akumulasi pengetahuan melalui proses jangka panjang pada pengembangan sumberdaya manusia. Peningkatan produktivitas, efisiensi, daya saing dan nilai tambah dalam system pertanian dapat ditingkatkan melalui upaya pengembangan inovasi teknologi pertanian cerdas berbasis human capital.(/tpb)
Bidang PKM yang diikuti oleh tim dari FTP UGM ini adalah penelitian (PKM-PE) dengan judul Formulasi Pangan Pengungsian Fungsional dengan Penambahan Senyawa Prekursor Antidepresi dari Spirulina platensis. Penelitian ini dilatarbelakangi karena Negara kita yang rawan bencana. Dalam satu tahun terakhir, tiga bencana besar terjadi di Lombok, Palu, dan Banten. Data dari Departemen Kesehatan, korban pengungsian akibat bencana tersebut mencapai lebih dari 200 ribu jiwa. Pengungsi memiliki banyak masalah, 2 diantaranya fisik dan psikologis. Masalah fisik disebabkan karena terbatasnya sedian makanan yang dapat membuat kurangnya asupan gizi. Berbagai kerusakan, kehilangan anggota keluarga menyebabkan trauma psikologis yang jika tidak ditangani menyebabkan depresi. Menurut penelitian, 7 dari 10 pengungsi mengalami depresi. Sebenarnya kedua masalah ini dapat ditangani melalui satu solusi, yaitu asupan makanan yang tepat. Tim PKM FTP UGM memformulasikan, NAPaS yang tersusun atas komponen nasi instan, pangsit dari Spirulina, dan abon sapi. Penambahan Spirulina 10% dapat meningkatkan nilai protein dan prekursor senyawa antidepresi (triptofan hingga 3,8 mg/g) pada pangsit. Selain itu, produk pangan pengungsian berupa nasi instan dengan pangsit Spirulina dan abon sapi mampu menyediakan energi 23% dari AKG. Atas itu, NAPaS pas dapat direkomendasikan sebagai pangan darurat dengan nilai fungsional yang diperlukan oleh para pengungsi korban bencana di Indonesia.
