• Tentang UGM
  • Simaster
  • Pusat TI
  • Perpustakaan
  • Penelitian
  • Surel
  • PPID UGM
  • Indonesia
    • Indonesia
    • English
Universitas Gadjah Mada Universitas Gadjah Mada
Fakultas Teknologi Pertanian
  • Tentang Kami
    • Pengantar
    • Sejarah FTP UGM
    • Visi dan Misi
    • Tujuan dan Sasaran
    • Struktur Kelembagaan
      • Senat Fakultas
      • Pengelola Fakultas
      • Pengelola Departemen
      • Pengelola Program Studi
      • Pelaksana Administrasi
      • Unit Manajemen Mutu (UMM)
    • Dies Natalis
    • Tenaga Pendidik
    • Kompetensi Lulusan
    • Fasilitas
      • Perpustakaan
    • Kerjasama
    • Kontak Kami
  • Pendidikan
    • Departemen
    • Program Studi
    • Program Pascasarjana
    • Akreditasi
    • Sistem Pendidikan
    • Persyaratan Menyelesaikan Studi
    • Panduan Akademik
    • Kalender Akademik
    • Summer School NUS & FH Upper Austria
    • SUMMER COURSE
    • Program Fast Track FTP
    • Penerimaan Mahasiswa Baru
  • Penelitian
    • Laboratorium
      • Inkubator
      • Uji Public Service
      • Pimpinan Laboratorium
    • Jurnal
    • Buku
    • Publikasi
  • Mahasiswa
    • Calon Mahasiswa
    • Organisasi Mahasiswa
    • Magang
    • Beasiswa
    • Layanan Mahasiswa
    • Pengajuan Aktivitas Mahasiswa dan SKPI
    • Yudisium dan Wisuda Program Sarjana
    • Layanan Akademik Online – Sarjana
    • Layanan Akademik Online – Pascasarjana
  • Alumni
    • Layanan Alumni
    • Karir
    • Survei Alumni
  • Informasi Publik
  • Beranda
  • Rilis Berita
  • hal. 127
Arsip:

Rilis Berita

Anisakis di Ikan Laut Merupakan Fenomena Alami

Rilis Berita Rabu, 4 April 2018

Temuan cacing Anisakis sp. dalam sejumlah merek produk ikan makarel kalengan belum lama ini  menimbulkan keresahan bagi masyarakat. Dosen Perikanan UGM, Dr. Eko Setyobudi, menyampaikan kemunculan anisakis dalam ikan laut merupakan hal yang biasa.

“Keberadaan anisakis di ikan laut merupakan fenomena biasa yang terjadi secara alami,” jelasnya, saat ditemui diruang kerjanya di Departemen Perikanan UGM, Selasa (3/4).

Eko mengatakan anisakis merupakan kelompok nematoda dari famili Anisakidae yang umum ditemukan sebagai parasit pada berbagai jenis ikan laut di seluruh dunia. Sementara itu, penyebarannya melibatkan krustasea, ikan, cumi-cumi, maupun mamalia laut sebagai inang.

Secara umum siklus hidup anisakis dicirikan dengan 4 kali moulting. Hanya stadia larva-2 yang bersifat hidup bebas dalam perairan dan akan berubah menjadi larva-3 setelah masuk dalam tubuh krustasea laut karena proses pemangsaan. Anisakis yang menginfeksi ikan atau cephalopoda berada dalam tahap larva-3 dengan ukuran kurang lebih 2-4 cm. Sementara  untuk tahap anisakis dewasa hanya ditemukan pada mamalia laut.

Eko menjelaskan bahwa infeksi anisakis dalam organisme laut telah diteliti dalam beberapa studi dan sejumlah besar spesies ikan dan cephalopoda rentan terhadap infeksi nematoda ini. Sampai saat ini tidak kurang dari 200 jenis ikan dan 25 jenis cephalopoda telah dilaporkan terinfeksi anisakis. Adapun jenis ikan yang banyak dilaporkan terinfeksi adalah Atlantic Mackerel, Horse Mackerel,  Blue Mackerel, Indian Mackerel,  dan Hering.

“Hasil penelitian Departemen Perikanan UGM juga menunjukkan bahwa beberapa spesies ikan di Samudera Hindia Selatan Jawa juga terinfeksi oleh nematoda in,” jelas pria yang fokus menekuni penelitian anisakis sejak 2006 ini.

Anisakis terdiri dari banyak spesies dan beberapa diantaranya diyakini hanya terdistribusi dalam area terbatas. Eko mencontohkan pada Anisakis simplex lebih banyak ditemukan di belahan bumi utara bagian barat dan timur Samudera Atlantik dan Pasifik. Namun, Anisakis simplex kadang ditemukan di perairan barat Mediterania, khususnya pada ikan pelagis yang melakukan migrasi dari Atlantik. Sedangkan anisakis yang teridentifikasi di Samudera Hindia Selatan Jawa adalah Anisakis typica.

“Tingkat prevalensi dan intensitas infeksi Anisakis sp. terhadap suatu jenis ikan sangat dipengaruhi oleh wilayah geografis, habitat dan musim. Namun, ikan yang hidup atau bermigrasi ke daerah endemik anisakis berpeluang lebih besar terkena infeksi,” jelas pria yang meraih doktor dari Gangneung -Wonju National University, Korea ini.

Prevalensi dan intensitas infeksi cenderung meningkat sejalan dengan peningkatan ukuran atau usia ikan. Anisakis dapat hidup pada rongga perut, saluran pencernaan, organ tubuh bahkan dalam daging, dengan preferensi yang berbeda untuk setiap jenis inang.

Eko mengungkapkan di negara-negara maju, salah satunya Kanada, ikan yang telah diketahui mempunyai prevalensi larva anisakis yang tinggi akan diperiksa keberadaan nematodanya pada saat pengolahan. Daging ikan dengan infeksi berat akan dilakukan pemotongan bahkan dibuang. Proses seleksi ini dilakukan untuk menghindari kerugian ekonomi dan mencegah anisakis pada manusia.

Untuk mengurangi risiko keberadaan anisakis dalam industri pengolahan ikan, Eko menekankan pentingnya memastikan ikan bahan baku yang diperoleh bukan berasal dari wilayah dan musim musim penangkapan yang bebas dari infeksi anisakis. Selain itu, juga perlu dilakukan sampling terhadap bahan baku akan kemungkinan infeksi nematoda dan melakukan prosedur standar operasional penanganan bahan baku yang dicurigai terinfeksi dengan membuang bagian yang terinfeksi.

Cacing Mati Saat Proses Pengalengan

Pakar Keamanan Pangan, Prof. Endang Sutrisnawati Rahayu, saat dihubungi secara terpisah menyebutkan cacing anisakis pada ikan makarel kalengan dipastikan mati dan tidak membahayakan kesehatan manusia jika dikonsumsi. Pasalnya, cacing akan mati setelah melalui berbagai proses pengalengan sesuai dengan standar.

‘’Konsumsi bahan makanan yang mengandung parasit mati tidak membahayakan bagi kesehatan tubuh. Hanya saja dari segi estetika cacing memang sebaiknya tidak ada dalam ikan,” jelasnya.

Lebih lanjut dijelaskan Trisye, sapaan akrab Endang Sutrisnawati Rahayu, pada proses pengalengan memiliki persyaratan thermal untuk  memastikan seluruh mikroorganisme yang ada di bahan pangan yang diolah seluruhnya mati, termasuk endopsora  bakteri yang sering dipakai sebagai tolak ukur karena paling tahan dengan panas. Dengan demikian, pada proses pengalengan yang dilakukan sesuai dengan persyaratan yang ada dapat dipastikan aman bahkan hingga masa kadaluwarsa.

“Dalam proses sterilisasi untuk membunuh endospora saat pengalengan dilakukan di suhu lebih dari 121 °C. Kalau endospora saja sudah mati maka mikroorganisme serta parasit atau larva yang ada dalam bahan makanan yang diolah dipastikan juga sudah mati duluan,”tegasnya.

Guru Besar Fakultas Teknologi Pertanian (FTP) UGM ini mengimbau masyarakat untuk tidak panik menghadapi kejadian ini. Kasus ikan makarel kalengan yang bercacing ini diharapkan tidak menjadikan masyarakat takut untuk mengonsumsi ikan laut.

“Yang terpenting adalah diperhatikan dalam mengolah dan memasak ikan laut dengan sempurna,” katanya.

Yang harus diperhatikan, lanjutnya, justru pada ikan yang dikonsumsi mentah atau setengah matang. Menurutnya, perlu dilakukan kontrol terhadap bahan bakunya. Sebab, memasak ikan laut tanpa panas atau panas yang kurang tidak akan mematikan larva cacing dan bisa menyebabkan penyakit.

Trisye juga mengimbau industri pengalengan ikan untuk melakukan update standar operasional produk (SOP) pada Good Manufacturing Practice (GMP) maupun Hazard Analysis and Critical Control Point (HCPP) dan melakukan validasi  kecukupan panas dengan memperhatikan keberadaan nematoda pada bahan baku yang diolah.

Sebelumnya, BPOM merilis temuan  sebanyak 27 merek produk ikan makarel kalengan yang dinyatakan positif terdapat cacing parasit jenis Anisakis sp. BPOM telah melakukan pengawasan dengan menarik merek-merek tersebut dari pasaran di berbagai wilayah Indonesia. (Humas UGM/Ika)

 

Sumber : https://ugm.ac.id/id/berita/15976-anisakis.di.ikan.laut.merupakan.fenomena.alami

Tradisi Mapag Toya di Embung Potorono Bantul

Rilis Berita Rabu, 4 April 2018

Di bawah guyuran hujan, ratusan warga berbondong-bondong mendatangi Embung Potorono, Banguntapan, Bantul. Pasalnya, di lokasi tersebut telah diadakan peringatan Hari Air Dunia yang sekaligus perayaan ulang tahun ke-5 Gerakan Irigasi Bersih (GIB) Merti Tirto Amartani. Memperingati dua agenda tersebut, Balai Besar Wilayah Sungai Serayu Opak dengan Universitas Gadjah Mada melaksanakan kegiatan budaya Mapag Toya. Acara yang dilaksanakan pada Minggu (25/3) tersebut dihadiri beberapa perwakilan dari instansi pemerintah dan UGM.

Mapag Toya merupakan tradisi mengambil air dari Sungai Tambak Boyo yang membelah Desa Potorono. Air sebagai simbol dari kehidupan tersebut kemudian diambil dan ditampung dalam beberapa kendi. Sebelum melakukan tradisi itu, iring-iringan warga yang mengendarai bendi serta membawa tiga gunungan hasil bumi dan jajanan pasar diarak mengelilingi desa dan berakhir di Embung Potorono. Sontak karnaval ini mengundang antusiasme tersendiri bagi warga Desa Potorono dan sekitarnya.

Dr. Murtiningrum  selaku Sekretaris Departemen Teknik Pertanian dan Biosistem, Fakultas Teknologi Pertanian UGM menyampaikan dukungannya atas terus berlangsungnya GIB hingga tahun ke-lima ini. Ia menuturkan bahwa FTP UGM sangat mendukung adanya GIB sebagai salah satu cara untuk mempertahankan kualitas sumber daya air hingga dapat dimanfaatkan dengan baik oleh manusia.

“Air adalah pemberian Tuhan sehingga harus dikelola dengan sebaik-baiknya agar bisa digunakan untuk kepentingan masyarakat, khususnya untuk pertanian,” ungkap Murtiningrum.

Sementara itu, Lurah Desa Potorono, Prawata, mengucapkan terima kasih kepada semua pihak yang telah mendukung terselenggaranya kegiatan Mapag Toya. Ia berharap kegiatan ini dapat mengajarkan kepada warga untuk menjaga kebersihan sungai. “Semoga dengan adanya kegiatan GIB, petani dan pengguna air lainnya dapat lancar menggunakan air karena sungai-sungai telah bersih,” tutur Prawata. (Humas UGM/Catur)

 

Sumber : https://ugm.ac.id/id/berita/15937-tradisi.mapag.toya.di.embung.potorono.bantul

SUIJI-Service Learning Program 2018 di UGM Yogyakarta

Rilis Berita Senin, 12 Maret 2018

Universitas Gadjah Mada, dalam hal ini Fakultas Teknologi Pertanian menjadi koordinator pelaksana salah satu kegiatan Six University Initiative Japan Indonesia (SUIJI) yaitu Service Learning Program (SLP) atau semacam KKN yang diikuti oleh 12 mahasiswa dari 2 universitas di Jepang, yaitu Ehime University dan Kochi University yang berlangsung dari tanggal 24 Februari hingga 10 Maret 2018. Kegiatan SUIJI-SLP bertempat di Desa Selopamioro, Kecamatan Imogiri, Kabupaten Bantul didampingi 21 mahasiswa dari Fakultas Agrokompleks UGM (Teknologi Pertanian, Pertanian, Peternakan dan Kehutanan) dan 1 Dosen Pendamping dari Kochi University Prof. Masuda Kazuya dan 2 Dosen Pembimbing Lapangan dari Fakultas Teknologi Pertanian UGM, Dr. Agung Putra Pamungkas dan Dr. Ngadisih

 

Kegiatan diawali pada tanggal 24 Februari 2018 dengan penyambutan oleh Dekan Fakultas Teknologi Pertanian UGM Prof. Dr. Eni Harmayani didampingi oleh Kepala Kantor Urusan Internasional UGM Dr. I. Made Andi Arsana dan dilanjutkan dengan pengarahan teknis oleh Wakil Dekan Bidang Akademik dan Kemahasiswaan FTP UGM Prof. Dr. Yudi Pranoto dan diskusi kelompok dengan mahasiswa pendamping dan Dosen Pembimbing Lapangan untuk persiapan penerjunan.

Penyambutan oleh Dekan Fakultas Teknologi Pertanian UGM Prof. Dr. Eni Harmayani dan pembukaan oleh Kepala Kantor Urusan Internasional UGM Dr. I. Made Andi Arsana

Prof. Masuda Kazuya dari Kochi University, Japan sebagai Dosen Pendamping SUIJI-SLP 2018 di Yogyakarta

Berpose di area Gedung Balairung kantor rektorat Universitas Gadjah Mada

Welcoming night di Desa Selopamioro, Imogiri, Kabupaten Bantul

Cardio exercise, senam sehat bersama warga di Desa Selopamioro

Belajar seni lipat janur (daun kelapa muda) untuk merangkai kembar mayang

Menanam tanaman cabe di lahan pertanian warga

Penutupan program SUIJI-SLP 2018 di Yogyakarta dengan penyerahan sertifikat peserta oleh Dekan Fakultas Teknologi Pertanian UGM Prof. Dr. Eni Harmayani

 

Call for application : SUMMER COURSE TRADITIONAL FOOD For Agro-biodiversity, Health and Tourism

InformasiRilis Berita Senin, 26 Februari 2018

Pengukuhan Pengurus Kagama TP Jawa Tengah

Rilis Berita Senin, 5 Februari 2018

Alumni Universitas Gajah Mada (UGM) yang tergabung dalam Keluarga Alumni Gajah Mada (Kagama) Teknologi Pertanian Jawa Tengah, mengadakan Pertemuan dan Pengukuhan Pengurus. Acara ini digelar di Rumah Makan Ikan Bakar Cianjur (IBC) Semarang dan diikuti oleh alumni UGM angkatan 1997-2000. Selain itu, kegiatan ini juga untuk menjalin tali silaturrahmi antar alumni sekaligus membahas beberapa prospek ke depan untuk Kagama Jawa Tengah.

“Melalui pertemuan ini, kami bisa meng-up date 2000 anggota Alumni UGM untuk saling menciptakan jejaring komunikasi,” ujar Nuswantoro, Ketua Kagama Jateng, Minggu (4/2/2018). Sementara itu, menurut Dr. Saiful Rochdianto, selaku ketua Kagama Pusat menyampaikan beberapa hal mengenai program kerja yang dilaksanakan untuk ke depannya. Satu di antara program kerja tersebut adalah mengupayakan bidang bisnis, yakni produk-produk hasil pertanian akan dikembangkan sehingga mampu membesarkan Kagama itu sendiri. Serta melakukan beberapa pelatihan kepada para petani maupun siswa dalam mengembangkan produk-produk hasil pertanian.

Lebih lanjut, kata Saiful, peran alumni juga akan mengupayakan dan mengembangkan proses belajar mengajar mahasiswa, seperti menerima mahasiswa ketika melakukan penelitian maupun kerja praktek.

“Ke depannya kami berharap beberapa pengurus serta program kerja yang telah ditetapkan bisa berjalan dengan semestinya,” harap Saiful.

Selain itu, ungkapan senang juga diutarakan oleh Prof. Dr. Anang, selaku dosen Fakultas Teknologi Pertanian Universitas Semarang (USM) dan perwakilan dari tuan rumah.

“Selain bisa saling silaturrahmi dan tukar pikiran, kami juga senang karena sudah resmi dikukuhkan sebagai organisasi atau paguyuban alumni TP UGM” ucap Anang. (Ttk)

 

Sumber : http://jateng.tribunnews.com/2018/02/04/alumni-ugm-teknik-pangan-gagas-jejaring-bisnis-produk-pertanian

1…125126127128129…134

Berita Terakhir

  • Sertijab Ketua dan Sekretaris Senat FTP UGM Tandai Estafet Kepemimpinan Fakultas
  • Student Exchange Support Program ke Yamagata University Japan FY 2026
  • Hampir 45 Ribu Peserta Ikuti UM UGM CBT 2026, Rektor Tinjau Pelaksanaan di FTP
  • FTP UGM Gelar Summer School bersama NUS dan FH Upper Austria
  • Gelar Produk Mahasiswa TPHP 2026 Hadirkan Inovasi Pangan Darurat

Berita UGM

  • Mengabdi di Pulau Rote, Tim KKN-PPM UGM Kembangkan Potensi Sentra Gula Lontar 24 Juni 2026
  • Negara Belum Memberikan Pengakuan dan Perlindungan Hak Masyarakat Adat 24 Juni 2026
  • Dosen UGM Ungkap Pengaruh Belanja Lingkungan Daerah Terhadap Tingkat Polusi 24 Juni 2026
  • UGM Perkuat Kerja Sama Akademik dan Riset Internasional dengan Beberapa Kampus di Australia 23 Juni 2026
  • Memanen Hujan dan Mengelola Sumber Mata Air 23 Juni 2026

Agenda

  • 28Jul Workshop Sustainable Workspace: “Menuju Kantor Minim Jejak Karbon”
  • 13Agu Srawung Desa
  • 22Agu Expo Beasiswa
  • 27Agu The 10th International Conference – Indonesian Society for Lactic Acid Bacteria and Gut Microbiota (ISLAB GM)
  • 27Agu Expo Produk Unggulan FTP UGM
Semua Agenda
Universitas Gadjah Mada

UNIVERSITAS GADJAH MADA
FAKULTAS TEKNOLOGI PERTANIAN
Jl. Flora No. 1 Bulaksumur
Yogyakarta, Indonesia 55281
+62 274 589797
+62 274 589797
fateta[at]ugm.ac.id

Info Fakultas

  • Rilis Berita
  • Agenda
  • Akademik
  • Kemahasiswaan
  • Perpustakaan
  • Beasiswa
  • Info Magang
  • Lowongan Kerja
  • Bantuan Hibah
  • Pengabdian
  • Seminar-Workshop

Departemen

  • Teknologi Pangan dan Hasil Pertanian
  • Teknik Pertanian dan Biosistem
  • Teknologi Industri Pertanian

Layanan Akademik Online

  • Layanan Akademik Sarjana
  • Layanan Akademik Pascasarjana

Informasi Publik

  • Daftar Informasi Publik
  • Permohonan Informasi Publik

Jurnal

  • Agritech
  • Agroindustrial Journal
  • Indonesian Food and Nutrition Progress

© 2026 Fakultas Teknologi Pertanian UGM

Peta SitusAturan PenggunaanKontak

KEBIJAKAN PRIVASI/PRIVACY POLICY

[EN] We use cookies to help our viewer get the best experience on our website. -- [ID] Kami menggunakan cookie untuk membantu pengunjung kami mendapatkan pengalaman terbaik di situs web kami.I Agree / Saya Setuju