Mahasiswa UGM tak pernah berhenti berinovasi. Kali ini, sejumlah mahasiswanya menciptakan mesin penghasil air bersih dari udara “Magic Water Harvester”.
“Magic Water Harvester ini dikembangkan untuk menjadi alternatif solusi dalam mengatasi persoalan kelangkaan air di beberapa daerah Indonesia,” kata Amalia Adinugraha Arisakti, salah satu pengembang alat ini, Kamis (4/7) di Kampus UGM.
Amalia bersama rekan satu jurusan di Departemen Teknik Pertanian FTP yakni Warit Abi Nurazaq dan Ardan Wiratmoko tergerak membuat mesin ini karena melihat besarnya potensi untuk mendapatkan air bersih dari udara. Berada di negara dengan iklim tropis dengan kelembaban udara rata-rata hingga 80 persen.
“Hal ini menunjukkan bahwa udara di Indonesia mempunyai kandungan air dalam udara yang banyak,” jelasnya.
Sementara kebutuhan akan air bersih semakin meningkat. Rata-rata penggunaan air masyarakat berkisar antara 169,11 liter/orang/hari hingga 247,36 liter/orang/hari. Bahkan, diprediksikan pada tahun 2025 mendatang Indonesia akan mengalami kelangkaan air bersih akibat ketersediaan air tanah yang tak sebanding dengan penggunaan manusia.
“Dengan mesin ini diharapkan bisa sebagai solusi mendapatkan air bersih,” ucapnya.
Mesin ini dapat menghasilkan air yang berasal dari udara bebas, bukan air tanah. Dibuat dengan empat komponen utama, yaitu peltier, heat sink, fan, dan power supply.
Bekerja dengan menggunakan prinsip titik embun. Untuk mengubah udara menjadi air dilakukan dengan mengkontakkan udara lingkungan dengan plat (heat sink) bersuhu di bawah titik embunnya. Dengan begitu, akan terjadi pengembunan dan embun-embun yang ada menggumpal menjadi tetes-tetesan air.
“Alat sudah kami ujikan di Laboratorium FTP dan bisa menghasilkan sebesar 70 ml air bersih,” jelasnya.
Amalia menuturkan bahwa air bersih yang dihasilkan belum bisa didapatkan dalam jumlah besar. Pasalnya, alat yang mereka kembangkan masih berupa prototipe kecil yang masih perlu dikembangkan lebih lanjut di masa mendatang.
Kedepan ketiganya akan terus mengembangkan alat ini dengan memaksimalkan sistem pendingin dan memanfaatkan energi terbarukan sebagai sumber energinya. Selain itu, juga memperbesar luasan permukaan dingin untuk mencapai hasil maksimal. (Humas UGM/Ika) (/Mtt)
Sumber : https://ugm.ac.id/id/berita/16438-mahasiswa.ugm.rancang.mesin.penghasil.air.bersih.dari.udara
Diah mengatakan ide pembuatan cookies daun sirsak ini berawal dari keikutsertaan mereka dalam Program Kreativitas Mahasiswa UGM 2018. Mereka tercetus untuk membuat biskuit ini karena prihatin dengan pola hidup masyarakat modern yang memiliki kecenderungan mengonsumsi makanan instan dan junk food. Konsumsi makanan tidak sehat dan hidup dalam kondisi lingkungan tercemar dapat memicu radikal bebas dalam tubuh dan dalam jangka panjang bisa memicu zat-zat karsinogenik yang menimbulkan tumor maupun kanker.
Penggunaan pati kulit ubi kayu sebagai dasar pembuatan edible film dipilih karena memakan biaya relatif murah dibandingkan dengan bahan lain, seperti protein maupun lipid dan juga aman. Selain itu, juga ketersediaannya yang cukup melimpah di masyarakat. Bahkan, kulit ubi kayu hanya menjadi limbah yang belum dimanfaatkan secara optimal
Sementara itu Dekan FTP UGM Prof. Dr. Ir. Eni Harmayani, M.Sc dalam sambutannya menyampaikan ucapan terima kasih kepada para sesepuh dan para pendiri FTP yang telah hadir dalam acara Syawalan meskipun acara berbarengan dengan libur nasional sehubungan dengan acara Pilkada. “Amanah dari para pendiri akan kita laksanakan dan mudah-mudahan kami dapat mengembangkan fakultas ini menuju fakultas yang bertaraf internasional”, tambah Prof. Dr. Ir. Eni Harmayani, M.Sc. Dalam kesempatan tersebut tausiah syawalan disampaikan oleh Ustadz Didik Purwodarsono dengan mengambil tema “Syawalan : Merajut Kebersamaan, Persaudaraan, dan Persatuan”. Dalam tausiahnya Ustadz Didik Purwodarsono menyampaikan pentingnya proses peningkatan kualitas diri untuk menuju kehidupan yang lebih baik dan bahagia di dunia dan untuk akhirat kelak. (/mtt)