Fakultas Teknologi Pertanian (FTP) UGM menyelenggarakan kegiatan Temu Mitra dan Gelar Produk dalam rangka Dies Natalisnya yang ke-56. Acara Temu Mitra yang terselenggara pada Jumat (30/8) ini bertujuan untuk menjalin komunikasi antara FTP dengan mitra industri.
Konsep yang diusung pada kegiatan ini adalah seminar. FTP mengundang sivitas akademika UGM, khususnya yang tertarik dengan industri agro. Selain itu, FTP mengundang pula para pelaku industri sebagai narasumber. Para peserta kemudian dibagi menjadi dua kelas sesuai dengan tema yang mereka minati. Dua tema yang diangkat pada kegiatan ini adalah Peran Industri dalam Menyediakan Makanan Sehat untuk Mencerdaskan Bangsa dan Tantangan Industri Sawit dalam Menghadapi Isu Negatif terhadap Kesehatan.
Ketua Pelaksana Dies Natalis Ke-56 FTP, Dr. Ir. Chusnul Hidayat, menyatakan bahwa Temu Mitra ini perlu untuk menggali permasalahan yang dihadapi oleh industri. Dengan memahami hal itu, menurutnya, para peneliti dari universitas akan lebih mudah untuk mencari solusinya.”Hal tersebut akan membuka jalan bagi kedua pihak untuk membangun jalinan kerja sama yang apik,” ujar Ketua PS S2 Ilmu dan Teknologi Pangan UGM ini.
Senada dengan Chusnul, Dekan FTP UGM, Prof. Ir. Eni Harmayani, M.Sc., menyebut acara ini menjadi kesempatan baik untuk memperkuat sinergi antara universitas dan industri. “Kerja sama kedua instansi saat ini sedang didorong oleh negara. Mudah-mudahan acara ini akan membawa manfaat untuk kesejahteraan bangsa ke depannya,” tuturnya.
Sementara itu, untuk kegiatan Gelar Produk diselenggarakan selama tiga hari, yakni dari Kamis (29/8) hingga Sabtu (31/8) di Selasar dan Lobi FTP UGM. Sekitar 19 produk hasil karya sivitas akademika UGM dipamerkan dalam kegiatan ini. Tujuannya adalah untuk menyosialisasikan produk dan teknologi tersebut kepada masyarakat umum. (Humas UGM/Hakam)
Sumber : https://ugm.ac.id/id/berita/18372-ftp-ugm-selenggarakan-temu-mitra-dan-gelar-produk
Bidang PKM yang diikuti oleh tim dari FTP UGM ini adalah penelitian (PKM-PE) dengan judul Formulasi Pangan Pengungsian Fungsional dengan Penambahan Senyawa Prekursor Antidepresi dari Spirulina platensis. Penelitian ini dilatarbelakangi karena Negara kita yang rawan bencana. Dalam satu tahun terakhir, tiga bencana besar terjadi di Lombok, Palu, dan Banten. Data dari Departemen Kesehatan, korban pengungsian akibat bencana tersebut mencapai lebih dari 200 ribu jiwa. Pengungsi memiliki banyak masalah, 2 diantaranya fisik dan psikologis. Masalah fisik disebabkan karena terbatasnya sedian makanan yang dapat membuat kurangnya asupan gizi. Berbagai kerusakan, kehilangan anggota keluarga menyebabkan trauma psikologis yang jika tidak ditangani menyebabkan depresi. Menurut penelitian, 7 dari 10 pengungsi mengalami depresi. Sebenarnya kedua masalah ini dapat ditangani melalui satu solusi, yaitu asupan makanan yang tepat. Tim PKM FTP UGM memformulasikan, NAPaS yang tersusun atas komponen nasi instan, pangsit dari Spirulina, dan abon sapi. Penambahan Spirulina 10% dapat meningkatkan nilai protein dan prekursor senyawa antidepresi (triptofan hingga 3,8 mg/g) pada pangsit. Selain itu, produk pangan pengungsian berupa nasi instan dengan pangsit Spirulina dan abon sapi mampu menyediakan energi 23% dari AKG. Atas itu, NAPaS pas dapat direkomendasikan sebagai pangan darurat dengan nilai fungsional yang diperlukan oleh para pengungsi korban bencana di Indonesia.
