Menjelang kelulusan, calon wisudawan/wati Fakultas Teknologi Pertanian (FTP) Universitas Gadjah Mada (UGM) dibekali wawasan untuk menghadapi dunia kerja yang terus berkembang melalui kegiatan “Beyond Graduation: Membangun Karier dan Kompetensi di Industri Smart Farming serta Menciptakan Multiple Income di Era Digital” pada Selasa (18/8) di FTP UGM. Kegiatan ini menjadi ruang bagi mahasiswa untuk mempersiapkan langkah setelah menyelesaikan pendidikan sekaligus mengenali berbagai peluang karier dan pengembangan kompetensi di era digital.
Hadir sebagai narasumber, Didi Widjanarko, S.T.P., M.Sc., CTO PT Mitra Sejahtera Membangun Bangsa sekaligus alumni Teknologi Industri Pertanian (TIP) FTP UGM tahun 2009, membagikan pengalaman perjalanan kariernya sejak menjadi mahasiswa hingga berkecimpung dalam pengembangan teknologi smart farming. Menurutnya, dunia kerja tidak hanya melihat ijazah atau gelar akademik, tetapi lebih jauh pada kemampuan dan nilai yang dapat diberikan seseorang.
“Dunia kerja tidak hanya membayar ijazah. Perusahaan tidak membayar kita karena kita pernah kuliah. Perusahaan membayar value yang bisa kita berikan,” ujar Didi.
Ia menjelaskan, terdapat sejumlah kompetensi yang perlu terus dikembangkan mahasiswa maupun lulusan, di antaranya problem solving, komunikasi, kemampuan beradaptasi, dan lifelong learning. Kompetensi tersebut menjadi semakin penting karena kebutuhan industri terus berubah seiring perkembangan teknologi.
Didi juga mendorong calon lulusan untuk mulai membangun portofolio sebagai bukti keterampilan yang dimiliki. Menurutnya, pengalaman selama kuliah, baik melalui organisasi, kepanitiaan, kegiatan akademik, maupun proyek personal, dapat menjadi modal yang menunjukkan kemampuan kepada calon pemberi kerja.
“Kalau saya posisi yang hire orang, yang saya minta portofolio. IPK nomor sekian, ijazah juga nomor sekian,” ungkapnya.
Pengalaman Didi selama menjadi mahasiswa juga menjadi contoh bagaimana keterampilan dapat dikembangkan dari aktivitas sederhana. Ketertarikannya pada desain grafis membawanya mengerjakan berbagai proyek, mulai dari membuat desain hingga mengembangkan side hustle melalui penjualan karya digital. Ia juga pernah terlibat dalam Program Kreativitas Mahasiswa (PKM) dan berbagai aktivitas organisasi selama berkuliah.
Menurutnya, pengalaman tersebut menjadi bagian dari proses membangun keterampilan yang kemudian dapat digunakan dalam dunia kerja. Ia menekankan bahwa tidak semua usaha harus langsung berkembang menjadi bisnis besar. Hal yang lebih penting adalah keberanian untuk memulai dan belajar menjual keterampilan yang dimiliki.
“Tidak semua usaha harus langsung menjadi bisnis besar, yang penting adalah belajar menjual skill,” katanya.
Pengalaman di dunia teknologi juga mengantarkan Didi pada pengembangan drone hingga teknologi smart farming. Dari proses tersebut, ia menemukan bahwa berbagai pengetahuan yang diperoleh selama kuliah di FTP tetap relevan ketika diterapkan di dunia kerja.
Ia menjelaskan bahwa materi seperti sistem industri, proses, engineering, statistik, manajemen, teknologi pertanian, problem solving, hingga praktikum menjadi fondasi yang kemudian diterapkan dalam pekerjaan melalui system thinking, process improvement, product development, data-driven decision, team and project management, smart farming, troubleshooting, dan experimental mindset.
“Kampus memberikan pondasi, dunia kerja mengajarkan bagaimana menggunakannya,” jelasnya.
Di tengah perkembangan teknologi, Didi juga mengingatkan calon lulusan agar tidak hanya bergantung pada teknologi atau perangkat yang sedang populer. Menurutnya, teknologi dapat berubah dengan cepat, sementara kemampuan fundamental tetap menjadi fondasi yang harus dikuasai.
“Teknologi boleh berubah, fundamental tidak. AI digunakan sebagai tools. Manusia sebagai kontrol. Tools adalah cabang, bukan batang. Yang bertahan adalah mereka yang paham ‘mengapa’, bukan hanya ‘bagaimana’. Kuasai fundamentalnya, tools akan mengikuti,” tuturnya.
Selain membangun karier utama, Didi turut memperkenalkan konsep multiple income sebagai salah satu strategi pengembangan karier di era digital. Ia menjelaskan bahwa sumber pendapatan tidak harus berasal dari satu jalur saja. Karier utama dapat menjadi fondasi finansial dan pengalaman industri, sementara aset digital, bisnis, maupun investasi dapat dikembangkan sebagai sumber pendapatan lainnya.
Menurutnya, multiple income bukan sekadar bekerja lebih banyak, melainkan membangun aset yang dapat memberikan nilai dalam jangka panjang. Berbagai keterampilan digital seperti desain, video editing, pemrograman, copywriting, penerjemahan, analisis data, hingga digital marketing dapat menjadi peluang yang dikembangkan sesuai kemampuan masing-masing.
“Income dan career tidak harus berasal dari satu sumber,” ujarnya.
Lebih lanjut, Didi mengajak calon wisudawan/wati untuk tidak terlalu takut memulai dari bawah. Menurutnya, kesempatan dan posisi ideal tidak selalu datang sejak awal, tetapi dapat terbentuk setelah seseorang mulai membangun kemampuan dan pengalaman.
“Jangan takut memulai dari bawah, jangan terlalu cepat mengejar jabatan, bangun skill yang bisa dijual, bangun portofolio, jangan hanya mencari pekerjaan namun bangun value. Jangan menunggu pekerjaan ideal karena opportunity sering datang setelah kita mulai, bukan sebelum kita mulai,” pesannya.
Pembekalan tersebut menjadi bagian dari rangkaian persiapan calon wisudawan/wati FTP UGM dalam memasuki fase setelah perguruan tinggi. Melalui pengalaman dan perspektif praktis dari alumni, mahasiswa diharapkan mampu melihat kelulusan bukan sebagai akhir perjalanan, melainkan awal untuk menerapkan ilmu, membangun kompetensi, menciptakan peluang, serta terus beradaptasi dengan perkembangan teknologi dan kebutuhan industri.
Wakil Dekan Bidang Akademik dan Kemahasiswaan FTP UGM, Prof. Dr. Yudi Pranoto, S.T.P., M.P., berharap kegiatan tersebut tidak berhenti pada forum pertemuan maupun pameran produk, tetapi mampu menghasilkan dampak yang lebih luas bagi masyarakat dan pelaku usaha. “Harapannya kegiatan ini tidak hanya sebatas pertemuan atau workshop ataupun juga gelar suatu product atau temu pelaku. Yang lebih jauh tentunya akan ada dampak yang significant, terutama bagi masyarakat, pelaku usaha secara luas dan nasional,” ujarnya.
Dekan FTP UGM, Prof. Dr. Ir. Eni Harmayani, M.Sc., menyampaikan bahwa PIONIR Agrophoria merupakan momentum awal bagi mahasiswa baru untuk mengenal lingkungan kampus sekaligus memahami nilai-nilai yang akan menjadi bekal selama menjalani kehidupan sebagai mahasiswa. “Tentu saja kegiatan Agrophoria ini selain pengenalan kampus juga pengenalan nilai-nilai ke-UGM-an, budaya akademik, serta semangat belajar, dan bekal untuk berkembang di perguruan tinggi nantinya,” ujar Dekan FTP UGM.
Semangat tersebut diwujudkan melalui berbagai kegiatan yang dirancang untuk membekali mahasiswa baru dengan pemahaman mengenai dunia akademik sekaligus tantangan yang akan mereka hadapi sebagai calon insan teknologi pertanian. Selain pengenalan lingkungan FTP UGM, mahasiswa mengikuti Career Exploration: Future Me, Development Class: Discovering Growth in Every Process, serta sesi fasilitator mengenai integritas akademik, manajemen waktu, literasi digital, dan pengembangan diri.